Shalahuddin Al-Ayyubi, Hadiah Mahkota untuk Orang Tua

IMG_8767Sudah bercita-cita untuk menghafalkan Alquran semenjak kelas 4 SD, Shalahuddin Al-Ayyubi menggenapkan cita-citanya menjadi hafidz ke-23 PPTQ Darul Fikri Sidoarjo. Saat ini, santri yang akrab disapa Ayyub ini tengah duduk di bangku kelas 9A PPTQ Darul Fikri. Alasannya memilih melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Tahfidz Quran Darul Fikri adalah karena dia ingin menjadi Santri berkarakter, berprestasi, hafal Alquran sesuai dengan visinya.

Alasan Ayyub menghafal 30 juz pun sungguh mulia. Santri putra dari pasangan Bapak Musyafa dan Ibu Ely Setiawati ini berkeinginan untuk memberi hadiah mahkota kepada orang tuanya serta syafaat kepada sepuluh orang keluarga dan temannya melalui kemampuan hafalannya.

Selama menjadi santri di PPTQ Darul Fikri pun, Ayyub merasa senang dan nyaman. Banyak teman baru yang selalu menemaninya selama 24 jam penuh. Namun, ada juga rasa sedih ketika pertama kali dia harus meninggalkan keluarga dan teman-temannya semasa SD. Namun, demi meraih cita-cita, dia rela mengorbankan semua itu.

Ayyub termasuk pencinta kegiatan outdoor seperti Mabit, Mukhayyam Jasadi, Rihal Tarbawiyah. Kegiatan-kegiatan seperti itu senantiasa membuatnya bersemangat dan menciptakan kesan baru dalam memorinya.

Moto hidupnya adalah “Man Jadda Wa Jada”. Ayyub percaya bila seseorang bersungguh-sungguh untuk meraih apa yang dia inginkan, maka hal itu pastilah akan terwujud. Seperti dalam perjuangannya menyelesaikan setoran hafalan ini, jadwal pesantren yang padat harus bisa dia atur sedemikian rupa agar bisa mengoptimalkan jadwal belajar dan menghafal.

“Biasanya saya menghafal sebelum dan sesudah subuh. Waktu belajar saya maksimalkan di sekolah dan setelah isya’ sampai tidur. Muraja’ah setelah shalat fardhu, biasanya tiga sampai lima halaman,” tutur Ayyub.

Ayyub percaya, faktor suksesnya adalah niat yang ikhlas, motivasi untuk terus menjadi lebih baik dari hari ini, ikhtiar dan tawakal kepada Allah, serta meminta doa kepada orang tua.

Sedangkan godaan terbesarnya dalam proses menghafal justru dari keakraban dengan teman-temannya. Maka ketika menghafal pun, Ayyub memilih untuk menyendiri, karena dia tak ingin tergoda untuk banyak bergurau dengan teman-temannya.

Momen perpindahan PPTQ Darul Fikri untuk santri putra dari Sarirogo ke Anggaswangi sempat membuat proses hafalannya yang sudah hampir selesai itu menjadi kurang optimal. Ayyub yang sudah terbiasa bangun malam pun menyiasatinya dengan menghafal sebanyak-banyaknya ketika bangun sekitar jam satu sampai shalat tahajud.

Santri yang terinspirasi oleh sosok Mishary Rashid Al-Afasy dalam hal menghafal Alquran ini mengaku grogi bercampur senang ketika hendak khataman. Dia mengaku grogi karena hendak menyetorkan hafalan terakhir di depan ustadz dan dilihat oleh seluruh santri SMP dan MA. Namun, dia juga merasa senang karena tidak ada tanggungan lagi kecuali murajaah.

Cita-cita Ayyub kelak adalah menjadi seorang Ulama Alquran. Santri yang memiliki hobi memanah, berenang, dan membaca buku ini ingin menjadi kaum yang tersebut dalam sabda Rasulullah, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya.” Ayyub juga ingin menjadi hakim karena dia merasa prihatin dengan negeri tercinta yang kini diliputi oleh ketidakadilan. Dia ingin mengadili orang-orang yang sudah menzhalimi orang lain. Selain itu, Ayyub juga ingin menjadi seorang manajer perusahaan, karena dia hendak memberikan uang yang didapatnya kepada orang-orang yang berjalan di jalan jihad. Menurutnya, dunia ini sedang diliputi peperangan baik nyata maupun maya.

Semoga apa yang dicita-citakan oleh Shalahuddin Al-Ayyubi tercapai dan diberi kemudahan untuk meraihnya! Aamiin.

Share Button