Khansa Nur Faizah, Tidak Pernah Berhenti Meraih Mimpi

IMG_0615Bercita-cita menghafal Alquran semenjak kelas 1 SD, Khansa Nur Faizah menggenapi impiannya itu begitu duduk di bangku kelas 9 SMPIT Darul Fikri. Pencapaiannya ini bukan tanpa usaha. Santriwati yang akrab disapa Faiz ini menuturkan bahwa kita harus terus berjuang meraih impian kita sampai impian itu terwujud.

Memilih meneruskan pendidikannya di Pondok Pesantren Darul Fikri bukanlah tanpa alasan. Putri pasangan Bapak Erwin Kusuma dan Ibu drg. Weni Miftachul Jannah ini sengaja mencari sekolah tahfidz untuk melanjutkan hafalan yang sudah dimulainya sedari SD. Dan Pondok Pesantren Darul Fikri lah yang menjadi pilihannya.

Seperti apa yang menjadi motto hidupnya, “Don’t stop to dreams until God hug your dreams” yang bermakna “Jangan pernah berhenti bermimpi sampai Allah mendekap impianmu!” Faiz juga tak pernah menyerah untuk meraih apa yang diimpikannya.

Kesulitan yang paling mengganggunya ketika menghafal adalah rasa kantuk yang teramat dalam ketika dia sedang menghafal. Hal itu pun dia sikapi dengan menghafal sambil berdiri dan berjalan agar kantuk itu hilang.

 IMG_0691

Tak jarang juga, ketika rasa kantuk datang saat tengah menghafal, dia mendapati teman-temannya sudah jatuh tertidur. Dia terus berusaha agar tetap terjaga dan terus menghafal walau sudah jam sepuluh malam.

Dukungan lingkungan juga berpengaruh pada proses menghafal Faiz. Dia bersyukur di Pondok Pesantren Darul Fikri, baik ustadz, ustadzah, serta teman-temannya begitu ramah dan baik sehingga membuat kesehariannya menyenangkan.

“Dafi itu tempat saya ngumpul sama teman-teman dan bikin semua enjoy. Kadang juga jarang dijenguk, padahal perlu motivasi orang tua,” curhatnya.

Rahasia kesuksesan menghafal 30 juz, santriwati kelahiran Surabaya, 18 Januari 2003 ini adalah dengan menambah hafalan setelah subuh dan malam harinya sebelum tidur. “Setelah subuh, saat tahfidz saya usahakan untuk menambah dua halaman dan malam dua halaman, serta murajaah hafalan pagi,” tuturnya.

Sedangkan untuk membagi waktu antara belajar dan hafalan, Faiz punya cara tersendiri meskipun dia mengaku bahwa kelas 9 ini sudah mulai susah untuk mengatur waktu. “Saya berusaha berkomitmen untuk belajar setelah isya’ dan murajaah hafalan setelah tahajjud,” akunya menuturkan tipsnya membagi waktu belajar dan menghafal.

Faizah sendiri tidak menyangka akan selesai khatam hafalan 30 juz. Melihat betapa berat perjuangannya. Dia merasa bersyukur karena selama ini perjuangannya ternyata tidak sia-sia.

Dengan khatam menghafal 30 juz, Faiz berharap keinginannya untuk menjadi keluarga Allah dan membanggakan orang tua dunia dan akhirat bisa terpenuhi. Dalam hal menghafal, santriwati yang hobi membaca ini mengaku terinspirasi oleh sosok Al-Junayd.

Selama belajar di Pondok Pesantren Darul Fikri pun, banyak hal berkesan yang terpatri di benak Faiz seperti kegiatan rihlah dakwah dan masa-masanya ketika menjadi OSIS karena dia merasa banyak pelajaran yang bisa diambilnya untuk diamalkannya kelak di masyarakat.

Ke depannya, Faiz ingin menjadi seorang dokter radiologi, terinspirasi dari umminya yang juga seorang dokter gigi. Faiz ingin membaktikan ilmunya agar berguna bagi masyarakat banyak. Semoga ke depannya apa yang Khansa Nur Faizah impikan bisa tercapai dan dipermudah jalannya. Aamiin.

Share Button