Bercita-cita Jadi Dai Pengusaha, Hafizh Ini Ingin Buka Lapangan Pekerjaan

1Senyum khas, santun, ramah, dan mudah bergaul, inilah sebagian karakter Nur Muhammad Iqbal, santri berprestasi PPTQ Darul Fikri. Lahir di kota Magetan lereng Gunung Lawu 14 tahun lalu dari pasangan suami istri PNS. Ayahnya Catur Budi Jatmiko  adalah dr hewan yang saat ini tercatat sebagai PNS di Kalimatan Selatan, sedangnya ibunya Tri Setyorini adalah  guru Mts di Banyuwangi Jawa Timur. Nur Muhammad, begitu panggilan akrabnya telah menyelesaikan setoran hafalannya 30 juz di SMPIT Darul Fikri saat duduk di semester 1 kelas 9. Berikut kisah singkat perjuangannya mengukir ayat-ayat Allah dalam hatinya. 

Tiga tahun yang lalu Nur Muhammad memutuskan mengikuti nasehat orang tuanya untuk melanjutkan pendidikannya setamat dari SDIT Insan Cendekia Banyuwangi ke Pondok Pesantren  Tahfizh Alquran SMPIT Darul Fikri Sidoarjo Jawa Timur. Berbekal hafalan yang hampir dua juz, Nur Muhammad meninggalkan kampung halaman tercinta,  Desa Sidomulyo Kecamatan Silo Jember Jawa Timur. Jarak tempat tinggalnya yang terletak di perbatasan Kabupaten Jember dengan Banyuwangi dengan Sidoarjo kurang lebih 270 km, ukuran yang tidak dekat untuk anak yang baru meninggalkan bangku sekolah dasar. Namun keinginannya untuk membahagiakan orang tuanya yang telah memilihkan sekolah buatnya dan keyakinannya bahwa Dafi adalah tempat terbaik untuk belajar dan menghafal Alquran menjadikan jauhnya jarak bukan masalah berarti buatnya. Ketika mendaftar di Dafi sebenarnya Nur Muhammad belum terfikir akan bisa menyesaikan hafalan 30 juz di SMP, namun dengan ijin Allah setelah di pondok, kemudian mendapat banyak motivasi dari para ustazh maupun kakak-kakak kelasnya, serta dukungan progam pondok membuatnya membulatkan tekat untuk hafal Alquran di kelas 9 SMP.  Remaja yang hobi membaca, menulis, dan bola volley ini termasuk santri yang cukup lancar perjalanan belajarnya di Darul Fikri,  langsung kerasan di hari pertama masuk pondok, bahkan dalam perjalanan selanjutnya Nur Muhammad hanya dijenguk sakali setiap sementernya oelh orang tuanya, kalau ada jatah pulang 2 hari setiap bulan juga jarang dimanfaat untuk pulang, ia lebih memilih di pondok istirahat dan belajar “Enak di pondok suasananya, teman-temannya banyak.” jelasnya.

“Istiqomah dalam menghafal, kalau ada masalah saya terus menghafal, saya husnudhon kepada Allah, pagi hari saya pakai untuk menghafal hafalan baru, sehabis Ashar saya pakai untuk mengulang hafalan.” terangnya menjelaskan kiatnya menghafal Alquran. Nur Muhammad berusaha membagi fokus dan konsentrasinya agar sukses menghafal dan belajar di sekolah sekaligus.”Nur Muhammad termasuk santri yang sukses hafalannya dan lancar studynya.” terang salah seorang guru di Dafi. Nur Muhammmad rela begadang sampai larut malam untuk menghafal Alquran, namun hal ini tidak menjadikannya lalai mendirikan  shalat tahajjud. Orang tuanya  tidak henti-hentinya mendoakan dan memotivasinya, setiap telepon ortunya selalu memotivasinya untuk istiqomah dan segera menuntaskan hafalannya. “Saya  pingin hafal Alquran  karena keutamaannya, pingin faham dan mengaplikasikannya, Alquran  jadi pengingat kalau ada maksiat” papar Nur Muhammad. Pemegang amanah bidang dakwah OSIS SMPIT Dafi ini selalu berusaha memahami setiap ayat yang dia hafalkan, mungkin ini salah satu rahasia dirinya begitu menikmati aktifitas menghafalnya.  Setelah berjuang dua tahun di pondok dengan segudang kegiatannya dan suka dukanya, akhirnya hari bahagia dan bersejarah itu tiba,  Kamis 20 Dzulhijjah 1437 H (22 September 2016) di Masjid Imam Syafii, di hadapan warga PPTQ Darul Fikri Nur Muhammad menuntaskan  setoran hafalannya 30 juz. Rasa syukur tiada terkira dirasakannya.

Kini santri sulung tiga bersaudara ini terus berusaha istiqomah menjaga hafalan, memahami, dan mengamalkannya. Pengagum Ustman Bin Affan ini sekarang sedang berusaha meniti jalan menuju cita-cita mulianya, menjadi dai pengusaha yang hafal Alquran, baginya tidak ada amal yang lebih mulai dari pada menjadi dai, menjadi pengusaha akan membuatnya bisa membantu banyak orang dengan membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. Baarakallah fiika ya Nur Muhammad semoga tergapai cita-cita mulia ini. Aamiin

Share Button