Sakit Typus Tetap Menghafal, Setor Hafalan Lewat WA, Setelah Wisuda Tidak Mau Pulang, Dilza Akhirnya Hafal Alquran

aadilahBila cita-cita sudah merasuk ke dalam jiwa, terpatri kuat dalam dada,  maka apapun akan dilakukan untuk menggapainya. Sakit tidak dirasa, lelahpun terasa nikmat. Itulah yang dirasakan oleh Adila Zahra Mujahidah, alumni PPTQ SMPIT Darul Fikri Sidoarjo. Dilza demikian remaja asal Jombang ini biasa dipanggil, memiliki cita-cita yang mulai “dokter yang hafal Alquran”. Juara tiga Nasional tahfizh Alquran kategori SMP tahun 2015 ini, mengawali jalan meraih cita-citanya di SMPIT Darul Fikri Sidoarjo. Alhamdulillah 10 Ramadhan 1437 H lalu dirinya telah menyelesaikan hafalan Alquran 30 juz di Darul Fikri. Kisahnya menyelesaikan  hafalan 30 juz penuh perjuangan yang panjang dan melelahkan, meskipun dirinya selalu menikmati semua itu sebagai sebuah sunnatullah jalan menuju sukses.

Lahir di Jombang Jawa Timur, 15 tahun yang lalu, putri pasangan PNS Imam Sufa’at dan Nuryati  ini bercita-cita menjadi dokter yang hafal Alquran 30 juz. Untuk mewujudkan mimpinya itu dirinya memilih SMPIT Darul Fikri sebagai sekolah berikutnya untuk menempa diri setelah lulus dari SDIT Ar Ruhul Jadid Jombang. Kedua orang tua Dilza telah mengkondisikannya gemar menghafal Alquran sejak kecil, nasehat dan motivasi selalu diberikan. “Allah menjanjikan kepada penghafal Alquran mahkota  terindah yang akan diberikan untuk orang tua. Sejak kecil orang tua sudah menyuruh saya menghafal Alquran, tapi saya baru punya komitmen yang kuat untuk menghafal setelah di Darul Fikri” terang remaja yang hobi membaca ini. Dilza yang sekarang tercatat sebagai siswa SMAIT Al Uswah Surabaya ini selalu bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, dirinya tidak membedakaan antara ilmu umum dan ilmu agama. Belajar di sekolah ataupun menghafal Alquran selalu dilakukan dengan serius,  “Kalau waktunya tahfizh, harus bener-bener dibuat menghafal, kalau pelajaran , ya belajar. Pokoknya, pemanfaatkan waktu harus optimal di setiap kesempatan.” imbuh  peraih juara 2 lomba PAI JSIT Jawa Timur  2015 ini. “Adilah adalah santri yang berprestasi, pemimpin yang tegas, memberi teladan yang baik bagi santri yang lain, berakhlaq mulia, disiplin, dan tawadhu.” terang Dian Noeswantari, Kepala Kesantrian Putri PPTQ Darul Fikri Sidoarjo.

Perjalanan Dilza menghafal Alquran bukan tanpa kendala, awal nyantri di Darul Fikri adiknya sakit berat dan akhirnya meninggal di akhir tahun 2015 (semoga Allah menempatkannya di surga-Nya). Tetapi dirinya adalah tipe remaja tangguh dan mandiri, hambatan dijadikannya tantangan untuk meraih cita-citanya. Melihat adiknya yang sering sakit   keinginannya menjadi dokter semakin kuat, “Kesehatan itu penting karena kesehatan mempengaruhi kualitas hidup seseorang, saya tidak ingin menjadi dokter biasa, saya ingin menjadi dokter yang berdakwah, hafal Alquran, yang tidak hanya mengobati fisik pasien, tapi juga mengobati ruhiyyahnya.” terang remaja yang  terinspirasi dengan Syaima Karimah, dokter hafal Alquran, menjadi aktifis dakwah, dan pebisnis sukses di usia muda. Meski terkadang dirinya mengalami kesulitan menghafal ayat ayat pendek, tetapi tekadnya yang kuat untuk menyelesaikan hafalan 30 juz sebelum lulus dari SMPIT Darul Fikri mengantarkannya  bisa mengatasi kesulitan itu dengan ijin Allah SWT.

Setelah Ujian Nasional SMP selesai Dilza baru menyelesaikan 19 juz hafalan, masih tersisa 11 juz untuk genap 30 juz. Tersisa waktu satu bulan sebelum wisuda Darul Fikri untuk menyelesaikan 11 juz tersisa, waktu yang tidak banyak ditambah godaan untuk bersantai pasca UN sebagimana lazimnya remaja. Tapi demi tekatnya hafal 30 juz sebelum wisuda, perjuangan hebatpun dimulai, saat banyak remaja merasa merdeka setelah UN, Dilza habiskan hari-harinya bersama Alquran. “Dilza ini santri yang gigih dalam menghafal dan sangat sabar, berulang kali sakit typus tetap tidak menjadikannya patah semangat” terang Ustadzah Leni Latipah, Al Hafizhah pengampu tahfizhnya. Dilza setiap hari menghafal Alquran sampai pukul sebelas malam, bahkan terkadang sampai tengah malam, tetapi uniknya semua itu tidak menghilangkan keceriaannya sebagai remaja, dirinya tetap bisa membagi waktu bersama teman-temannya, tidak heran kalau dirinya menjadi sosok santri yang disukai teman-temannya. Saat hafalannya kurang lima juz sakit typusnya kambuh, padahal sepekan lagi sudah wisuda dan hafalannya kurang 5 juz lagi. Tapi sakitnya ini justru membuktikan keinginan kuatnya untuk hafal Alquran sebelum wisuda. Di rumah di masa penyembuhan typus ditambah sariawan parah Dilza tetap menghafal, setiap hari ia kirim rekaman hafalannya ke Ustadzah di Darul Fikri, maa syaa Allah……”Di rumah ketika sakit typus Dilza sempat sariawan parah, tapi dirinya tetap gigih untuk setoran by voice note”  jelas Ustadz Leni. Manusia berusaha ketentuan Allah mendahului, waktu wisuda tiba Dilza baru hafal 28,5 juz, tersisa 1,5 juz. Seolah mengobati kelelahannya menghafal Dilza terpilih menjadi santri teladan kategori santri dengan karakter terbaik pada wisuda angkatan IV PPTQ SMPIT Darul Fikri. Setelah Wisuda Dilza minta ijin tidak pulang ke rumah, tapi menyelesaikan sisa hafalannya di pondok, akhirnya tanggal 10 Ramadhan 1437 H pukul 17.00 WIB (15 Juni 2016) Adilah Zahra Mujahidah mencatatkan namanya sebagai santri keenam yang hafal Alquran di SMPIT Darul Fikri, baarakallah lahaa….

Share Button